Minggu, 22 September 2013

Kapas-kapas yang Tersebar ( diadaptasi dari siaran radio)


Suata ketika hiduplah seorang pedagang yang sukses. Karena sering berdagang sampai keluar kota, maka ia mulai terjerumus ke perjudian dan mabok bersama orang-orang nakal yang ia temui di luar kota itu. Akhirnya hasil jeri payah yang ia peroleh dari usahanya muali habis di meja judi. Rasa tidak puasnya terhadap kekalahan membuat ia semakin gila dan terus menerus menghabiskan uangnya demi taruhan.
Lambat laun ia menjadi bangkrut , seluruh hartanya musnah karena perjudiannya. Kehidupannya menjadi terbalik sekarang. Anak istrinya sengsara karena tindakan pedagang itu. Tak ada yang tahu bahwa penyebebnya adalah kebiasaannya di meja judi. Hal itu jelas tidak boleh ada yang tahu. Karena tak ingin ada yang mencurigai, maka ia menyebarkan berita bahwa kawan yang menjadi kepercayaannya telah memeras hartanya demi kepentingan sendiri.
Berita itu sangat cepat menyebar. Hidup sang kawan kini sengsara. Namun ia hanya pasrah sampai-sampai ia jatuh sakit karena tak sanggup menerima keadaan yang terjadi. Tak hanya sakit yang diderita , ia juga harus menerima kenyataan yang tak kalah memilukan bahwa keluarganya telah dikucilkan masyarakat.
Keadaan itu terdengar sampai ke telinga sang pedagang. Ia tak menyangka bahwa tindakannya akan berhujung seperti ini. Karena merasa sangat bersalah , maka ia pergi mengunjuni kawannya untuk meminta maaf.

Tiba di rumah sang kawan ia datang dan meminta maaf. Namun sang kawan berkata, “Baiklah, aku akan memaafkan perbuatanmu. Namun kau harus terlebih dahulu mengabulkan dua permintaanku”. “Apakah itu kawan?”, sahut pedagang. Sang kawan memberikan sebuah bantal pada pedagang dan berkata, “Sebarkan kapas yang ada di dalamnya secara perlahan di atap rumah”. Maka dilaksanakannya permintaan itu oleh sang pedagang. Setelah semua kapas tersebar , ia turun dan kembali menemui sang kawan. “Sudah kulakukan. Apa permintaanmu yang kedua?”, tanya sang pedagang. “Ambilah kembali kapas-kapas yang sudah kau sebar itu kedalam bantal ini”, ucapnya dengan sura hampir habis tertelan volume. “Itu sangat sulit kulakukan, kapasnya sudah menyebar kemana-mana. Sangat sulit ”. Dengan sisa tenaganya, sang kawan berkata ,“Seperti itulah berita yang kau sebar. Seperti kapas-kapas yang sudah tersebar itu. Sangat sulit kau kembalikan. Kata maaf saja tidak cukup untuk menebusnya.”. sang pedagang hanya bisa tertegun dan diam bersama sang kawan yang tengah siap mengembus nafah panjang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar