Suata
ketika hiduplah seorang pedagang yang sukses. Karena sering berdagang sampai
keluar kota, maka ia mulai terjerumus ke perjudian dan mabok bersama
orang-orang nakal yang ia temui di luar kota itu. Akhirnya hasil jeri payah
yang ia peroleh dari usahanya muali habis di meja judi. Rasa tidak puasnya
terhadap kekalahan membuat ia semakin gila dan terus menerus menghabiskan
uangnya demi taruhan.
Lambat
laun ia menjadi bangkrut , seluruh hartanya musnah karena perjudiannya.
Kehidupannya menjadi terbalik sekarang. Anak istrinya sengsara karena tindakan
pedagang itu. Tak ada yang tahu bahwa penyebebnya adalah kebiasaannya di meja
judi. Hal itu jelas tidak boleh ada yang tahu. Karena tak ingin ada yang
mencurigai, maka ia menyebarkan berita bahwa kawan yang menjadi kepercayaannya
telah memeras hartanya demi kepentingan sendiri.
Berita
itu sangat cepat menyebar. Hidup sang kawan kini sengsara. Namun ia hanya
pasrah sampai-sampai ia jatuh sakit karena tak sanggup menerima keadaan yang
terjadi. Tak hanya sakit yang diderita , ia juga harus menerima kenyataan yang
tak kalah memilukan bahwa keluarganya telah dikucilkan masyarakat.
Keadaan
itu terdengar sampai ke telinga sang pedagang. Ia tak menyangka bahwa
tindakannya akan berhujung seperti ini. Karena merasa sangat bersalah , maka ia
pergi mengunjuni kawannya untuk meminta maaf.
Tiba
di rumah sang kawan ia datang dan meminta maaf. Namun sang kawan berkata,
“Baiklah, aku akan memaafkan perbuatanmu. Namun kau harus terlebih dahulu
mengabulkan dua permintaanku”. “Apakah itu kawan?”, sahut pedagang. Sang kawan
memberikan sebuah bantal pada pedagang dan berkata, “Sebarkan kapas yang ada di
dalamnya secara perlahan di atap rumah”. Maka dilaksanakannya permintaan itu
oleh sang pedagang. Setelah semua kapas tersebar , ia turun dan kembali menemui
sang kawan. “Sudah kulakukan. Apa permintaanmu yang kedua?”, tanya sang
pedagang. “Ambilah kembali kapas-kapas yang sudah kau sebar itu kedalam bantal
ini”, ucapnya dengan sura hampir habis tertelan volume. “Itu sangat sulit
kulakukan, kapasnya sudah menyebar kemana-mana. Sangat sulit ”. Dengan sisa
tenaganya, sang kawan berkata ,“Seperti itulah berita yang kau sebar. Seperti
kapas-kapas yang sudah tersebar itu. Sangat sulit kau kembalikan. Kata maaf
saja tidak cukup untuk menebusnya.”. sang pedagang hanya bisa tertegun dan diam
bersama sang kawan yang tengah siap mengembus nafah panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar